Gen Z Makin Susah KPR, Orang Tua Jadi Biayai Cicilannya

March 21, 2026
0 Comments

Gen Z Makin Susah KPR, Orang Tua Jadi Biayai Cicilannya

Generasi Z—atau yang akrab disebut Gen Z—kini mulai memasuki fase baru dalam hidupnya: berburu hunian. Mereka yang lahir di rentang 1997 hingga 2002 sebagian besar sudah bekerja, memiliki penghasilan tetap, dan secara teoritis siap membeli rumah pertama.

Namun realitas berkata lain. Harga properti terus merangkak naik, sementara kondisi ekonomi global masih fluktuatif. Situasi ini membuat banyak Gen Z menahan langkah. Mereka berpikir ulang. Tidak sedikit yang akhirnya memilih tinggal di kontrakan—lebih fleksibel, lebih ringan, meski tanpa kepastian jangka panjang seperti kepemilikan rumah.

Fenomena ini menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi para orang tua. Ada kekhawatiran yang mengendap. Bagaimana masa depan anak-anak mereka? Apakah mereka bisa memiliki tempat tinggal yang layak, aman, dan stabil?

Dari kegelisahan itu, lahirlah sebuah tren baru. Cukup unik, bahkan bisa dibilang altruistik. Banyak orang tua kini bersedia turun tangan langsung, termasuk membayar cicilan KPR demi membantu anaknya memiliki rumah.

Mengutip laporan dari Fortune, sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh perusahaan jasa keuangan Northwestern Mutual menunjukkan perubahan sikap yang signifikan dari generasi orang tua terhadap masa depan finansial anak-anak mereka, khususnya Gen Z.

Survei tersebut melibatkan lebih dari 4.300 responden di Amerika Serikat dan dilakukan secara daring pada Januari 2026. Hasilnya cukup mencengangkan. Mayoritas orang tua masih memiliki sense of responsibility yang tinggi, terutama dalam hal membantu anak secara finansial.

Sebanyak 52 persen responden yang merupakan orang tua mengaku terbuka untuk membantu anak mereka membeli rumah. Sementara itu, 22 persen lainnya bahkan sudah mengambil langkah konkret—ikut membiayai, termasuk membayar cicilan KPR sesuai tenor yang berjalan.

Baca juga Tips Aman Meninggalkan Rumah Saat Mudik Lebaran

Yang lebih menarik lagi, sekitar 29 persen orang tua memilih memprioritaskan kepemilikan rumah bagi anak dibandingkan membiayai pendidikan di universitas ternama. Sebuah pergeseran paradigma yang cukup radikal. Meski demikian, 55 persen responden tetap beranggapan bahwa pendidikan dan kepemilikan rumah sama-sama penting—dua pilar utama dalam membangun masa depan.

“Banyak gelar pendidikan saat ini mungkin tidak lagi memiliki nilai strategis seperti dulu,” ujar Ed Amos, penasihat manajemen kekayaan dari Northwestern Mutual.

Menurut Amos, Gen Z berada dalam posisi yang cukup rentan. Secara akumulasi kekayaan, mereka jauh tertinggal dibanding generasi sebelumnya, yakni Baby Boomer dan Generasi X.

Data dari Federal Reserve menunjukkan bahwa generasi Baby Boomer di Amerika Serikat menguasai aset lebih dari US$ 86 triliun—menjadikannya generasi paling affluent sepanjang sejarah. Sementara Generasi X memiliki aset sekitar US$ 44 triliun.

Di sisi lain, Gen Z harus menghadapi realitas ekonomi yang tidak bersahabat. Biaya hidup meningkat. Harga bensin melonjak. Kebutuhan pokok semakin mahal. Semua ini menciptakan tekanan finansial yang tidak ringan.

Jika dulu rata-rata usia pembeli rumah pertama berada di usia 30-an, kini terjadi pergeseran signifikan. Satu dekade kemudian, angka tersebut bergeser ke usia 40-an. Sebuah indikasi bahwa akses terhadap kepemilikan rumah semakin sulit.

Harga properti yang terus menanjak menjadi salah satu faktor utama. Saat ini, harga rata-rata rumah di Amerika Serikat telah menembus angka US$ 410 ribu, atau sekitar Rp 6,9 miliar (dengan kurs Rp 16.956). Angka yang tidak ramah bagi pembeli pemula.

Amos memperkirakan tren ini akan terus berlanjut. Akan banyak Gen Z yang mengalami kesulitan untuk membeli rumah secara mandiri di masa depan. Bahkan bagi mereka yang sudah memiliki pekerjaan stabil, kepemilikan rumah belum tentu menjadi prioritas—atau bahkan tidak lagi menjadi tujuan utama.

“Akses bagi pekerja level entry yang baru lulus dan ingin membeli rumah pertama kini semakin menyempit,” jelas Amos.

Ia menambahkan, realitas saat ini menunjukkan satu hal yang cukup jelas. Generasi muda—terutama Gen Z—akan semakin sulit untuk memiliki rumah tanpa bantuan pihak lain. Sendirian, hampir mustahil.

Yuk follow sosial media kami di @punyarumahdibali agar tidak ketinggalan berita dan informasi seru lainnya.

Leave a Comment