Dilema Gen Z Beli Rumah: Pilih Gaya Hidup atau Properti?


Keinginan Gen Z beli rumah kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di satu sisi, memiliki rumah tetap menjadi salah satu tujuan finansial jangka panjang. Namun di sisi lain, harga properti yang terus meningkat, perubahan gaya hidup, serta kebutuhan untuk tetap fleksibel membuat sebagian generasi muda memilih menyewa rumah atau hunian daripada membeli.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan kepemilikan rumah bagi Gen Z bukan hanya berkaitan dengan kemampuan finansial. Prioritas hidup, fleksibilitas, dan cara generasi muda menggunakan pendapatan juga ikut menentukan keputusan membeli atau menyewa rumah.
Dilema Gen Z Beli Rumah: Pilih Gaya Hidup atau Properti?
Mengapa Gen Z Menunda Membeli Rumah?
Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Real Estate Indonesia (REI) Totok Lusida menilai sebagian anak muda sebenarnya memiliki kemampuan finansial untuk membeli rumah. Namun, persoalannya tidak selalu terletak pada pendapatan. Kemauan dan konsistensi untuk menjadikan rumah sebagai prioritas keuangan juga menjadi faktor penting.
Generasi muda saat ini memiliki lebih banyak pilihan dalam menggunakan pendapatan. Selain kebutuhan tempat tinggal, mereka juga mempertimbangkan perjalanan, hiburan, pendidikan, pengembangan diri, hingga pengalaman hidup.
Akibatnya, membeli rumah tidak selalu menjadi prioritas pertama setelah seseorang mulai memiliki penghasilan.
Harga Rumah Naik Lebih Cepat dari Pendapatan
Salah satu tantangan terbesar kepemilikan rumah di Indonesia adalah ketimpangan antara kenaikan harga properti dan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Ketua Umum REI periode 1983–1986 Siswono Yudo Husodo menjelaskan bahwa kenaikan harga tanah dan rumah dalam jangka panjang cenderung lebih cepat dibandingkan peningkatan pendapatan masyarakat.
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa harga properti residensial di pasar primer tumbuh 0,83% secara tahunan pada kuartal IV-2025. Pada periode yang sama, penjualan rumah tumbuh 7,83% secara tahunan, dengan permintaan terutama berasal dari rumah tipe kecil dan menengah.
Data tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap hunian masih ada. Namun, kemampuan masyarakat untuk membeli rumah tetap menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.
KPR FLPP 40 Tahun Bisa Membuka Akses Lebih Luas
Pemerintah juga telah melakukan penyesuaian kebijakan pembiayaan perumahan untuk memperluas akses masyarakat terhadap rumah subsidi. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Investor Daily, pemerintah menyepakati tenor KPR FLPP hingga 40 tahun sejak Juni 2026. Skema tersebut menggunakan suku bunga tetap 5% untuk rumah subsidi.
Tenor yang lebih panjang berpotensi membuat cicilan bulanan menjadi lebih ringan sehingga dapat membantu masyarakat berpenghasilan rendah mengakses pembiayaan rumah. Namun, tenor panjang juga berarti kewajiban cicilan berlangsung lebih lama. Karena itu, calon pembeli tetap perlu menghitung kemampuan finansial secara menyeluruh sebelum mengambil KPR.
Gen Z Lebih Memilih Fleksibilitas Hunian
Selain persoalan harga, perubahan gaya hidup menjadi salah satu alasan Gen Z memilih menyewa rumah. Bagi sebagian generasi muda, rumah bukan lagi sekadar aset yang harus dimiliki secepat mungkin. Fleksibilitas tempat tinggal justru dianggap memiliki nilai tersendiri.
Menyewa rumah atau apartemen memungkinkan seseorang lebih mudah berpindah lokasi mengikuti pekerjaan, kesempatan karier, atau perubahan kebutuhan hidup. Misalnya, seorang pekerja yang belum yakin akan menetap di suatu kota dapat memilih menyewa hunian daripada langsung membeli rumah melalui KPR jangka panjang.
Baca juga Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,29%, Apakah Sektor Properti Ikut Melesat?
Sewa Rumah vs Beli Rumah untuk Gen Z
Pilihan antara menyewa dan membeli sebenarnya bergantung pada kondisi masing-masing individu.
Menyewa rumah memiliki beberapa kelebihan, seperti:
- Lebih fleksibel untuk berpindah tempat.
- Tidak membutuhkan uang muka sebesar pembelian rumah.
- Biaya perawatan tertentu dapat menjadi tanggung jawab pemilik properti.
- Cocok bagi pekerja yang masih sering berpindah kota.
Sementara itu, membeli rumah memiliki kelebihan, antara lain:
- Rumah dapat menjadi aset jangka panjang.
- Tidak bergantung pada keputusan pemilik properti.
- Memiliki potensi kenaikan nilai aset dalam jangka panjang.
- Setelah cicilan selesai, kewajiban pembayaran KPR berakhir.
Karena itu, tidak ada pilihan yang selalu lebih baik. Keputusan harus disesuaikan dengan pendapatan, lokasi pekerjaan, tabungan, rencana keluarga, harga properti, dan tujuan finansial.
Anggaran Menjadi Pertimbangan Penting Gen Z
Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025 menunjukkan bahwa 63% dari 1.500 responden Gen Z dan milenial mempertimbangkan anggaran serta biaya ketika memutuskan membeli rumah.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa faktor finansial tetap menjadi pertimbangan utama. Bagi generasi muda, membeli rumah berarti harus mempersiapkan uang muka, biaya KPR, cicilan bulanan, pajak, biaya perawatan, hingga berbagai biaya transaksi lainnya.
Di sisi lain, menyewa rumah memberikan struktur biaya yang relatif lebih sederhana dalam jangka pendek. Hal inilah yang membuat opsi sewa semakin menarik bagi sebagian Gen Z.
Gaya Hidup Ikut Mempengaruhi Keputusan Finansial
Mantan Ketua Umum DPP REI Enggartiasto Lukita menilai sebagian generasi muda saat ini memilih menggunakan pendapatan untuk mendapatkan pengalaman hidup. Pengeluaran untuk bepergian, menikmati waktu luang, serta tinggal di hunian sewa komunal menjadi bagian dari gaya hidup yang semakin diterima.
Perubahan ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak selalu mengukur keberhasilan finansial hanya berdasarkan kepemilikan aset. Pengalaman, kebebasan, dan fleksibilitas juga dianggap memiliki nilai ekonomi dan sosial.
Namun, kondisi tersebut bukan berarti Gen Z tidak ingin memiliki rumah. Sebagian hanya memilih menunda pembelian hingga kondisi finansial dan gaya hidup mereka lebih stabil.
Apakah Gen Z Harus Membeli Rumah Secepatnya?
Tidak selalu. Membeli rumah merupakan keputusan finansial besar yang sebaiknya dilakukan berdasarkan kemampuan, bukan sekadar tekanan sosial.
Jika seseorang memiliki pendapatan stabil, dana darurat yang cukup, tabungan untuk uang muka, serta berencana menetap dalam jangka panjang di suatu lokasi, membeli rumah dapat menjadi pilihan yang masuk akal.
Sebaliknya, jika pekerjaan masih berpindah-pindah, tabungan belum mencukupi, atau seseorang masih membutuhkan fleksibilitas tinggi, menyewa rumah bisa menjadi pilihan yang lebih rasional untuk sementara.
Yang terpenting adalah menghitung total biaya dan manfaat dari kedua pilihan tersebut.
Apa yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Membeli Rumah?
Gen Z yang mulai mempertimbangkan kepemilikan rumah dapat menggunakan beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah pendapatan sudah stabil?
- Apakah sudah memiliki dana darurat?
- Berapa besar uang muka yang tersedia?
- Berapa maksimal cicilan yang mampu dibayar setiap bulan?
- Apakah akan tinggal di kota tersebut dalam jangka panjang?
- Apakah harga rumah sesuai dengan kemampuan finansial?
- Apakah biaya membeli rumah lebih masuk akal dibandingkan biaya menyewa?
- Apakah rumah tersebut memiliki prospek sebagai aset jangka panjang?
Dengan menjawab pertanyaan tersebut, keputusan membeli atau menyewa dapat dibuat berdasarkan kondisi nyata, bukan sekadar mengikuti tren.
Dilema Gen Z antara membeli rumah dan mempertahankan gaya hidup bukan sekadar persoalan tidak mampu membeli properti. Perubahan prioritas hidup, kebutuhan fleksibilitas, kenaikan harga tanah dan rumah, serta pertimbangan biaya turut memengaruhi keputusan tersebut.
Di satu sisi, membeli rumah dapat menjadi strategi membangun aset jangka panjang. Di sisi lain, menyewa memberikan fleksibilitas yang lebih besar, terutama bagi generasi muda yang masih membangun karier dan belum menentukan lokasi tinggal permanen.
Dengan adanya kebijakan KPR FLPP dengan tenor hingga 40 tahun dan bunga tetap 5% untuk rumah subsidi, akses pembiayaan rumah berpotensi semakin terbuka. Namun, keputusan membeli rumah tetap harus disesuaikan dengan kemampuan finansial dan rencana hidup masing-masing.
Pada akhirnya, membeli rumah bukan perlombaan usia. Bagi Gen Z, keputusan terbaik adalah memilih antara membeli atau menyewa berdasarkan kemampuan, kebutuhan, dan tujuan keuangan jangka panjang.
Sedang mencari rumah impian atau ingin terus mendapatkan informasi seputar dunia properti? Yuk, follow @punyarumahdibali di media sosial! Jangan sampai ketinggalan berita menarik, tips bermanfaat, dan promo eksklusifnya.

